Dalam sebuah seni pentas atau drama seseorang bisa memerankan berbagai karakter dan tingkah laku sesuai dengan skenario yang telah dibuat. Namun, tidak sembarang orang bisa memerankan satu karakter seandainya orang tersebut tidak cocok dari segi tubuhnya karakter suara dan gerakan. Semua sudah ada yang mengatur hal itu. Pemilihan karakter dicari dari proses audisi yang panjang dan melelahkan.
Dunia adalah panggung sandiwara sebenarnya banyak orang berperan sesuai dengan kodrat yang maha pengatur. Semua orang tidak bisa mengingkari untuk berpentas dan beraksi dalam panggung ini. Tidak semua karakter memerankan karakternya berdasarkan pribadi masing-masing. Banyak diantara mereka memakai topeng khayalan untuk menutupi semua karakter yang dia perankan. Ada yang terlihat baik padalah buruk begitu juga sebaliknya. Hanya penonton yang bisa menilai.
Tapi sebagai penonton juga terkadang terbodohi oleh topeng-topeng yang menutupi wajah asli mereka, mereka tampak sekali nyata dan seperti karakter yang dia mainkan adalah karakter yang dia miliki dari lahir. Semua sudah diatur dan mereka hanya berpentas di dunia panggung sandiwara.
Banyak yang menebar senyum, janji, kebahagian, kemakmuran dan kesejahteraan yang dijanjikan. Tapi, semua hanya pemanis yang ditimbulkan lidah yang berfungsi sebagai media vokal dari skenario yang telah dibuat. Banyak yang membuat orang tergoda adalah harapan. Hingga diantara mereka terjebak dan terbuai oleh janji yang belum tentu nyata. Menjadi aktor yang berperan sebagai pemimin disini harus seperti itu. Bermulut manis, banyak memberi kesana dan kesini, memasang wajah baik dan bersimpati kepada orang banyak. Mahal memang topeng seorang pemimpin dan harganya pun jauh lebih mahal dari pada seorang rakyat yang sengsara dan kecewa dari janji yang tak pernah terbukti.
Hingga terpilihlah seorang diantara calon pemimpin, lambat laun topeng yang dia kenakan dulu akan pecah dan rusak pada waktunya, karakter asli akan terungkap dan tak ada waktu untuk menyesal. Kehidupan berjalan dan panggung pun semakin ramai, penonton bersorak dan tempat pun menjadi penuh dan sesak. Terlihatlah kebusukan karakter pemimpin yang telah membuang topengnya. Rakyat menjerit tapi tak ada waktu untuk melawan semuanya terlambat.
Dari kekacauan yang ada bermunculanlah pahlawan-pahlawan kecil dan besar. Namun, semuanya juga memakai topeng-topeng yang bersimpati kepada yang tertindas, hingga akhirnya salah satu dari pahlawan itu muncul menjadi seseorang yang dikagumi rakyatnya dan mampu merobohkan pemimpin yang telah kehilangan topengnya maka seketika pahlawan itu menjadi sanjungan dan pujian hingga dia lupa topeng yang dia kenakan terjatuh dan hilang. Maka terlihatlah karakter sebenarnya.
Topeng kehidupan adalah topeng-topeng nyata yang kita pakai sekarang, atau ini karakterku ini adalah peranku. Jika begiitu tanya pada diri sendiri siapa saya? Jika jawabanya iya saya adalah saya dan kamu adalah kamu makan topeng kehidupan sebenarnya telah terpasang diwajahmu.
Filed under: Ngasal Aja..